Jumat, 04 Desember 2009

PERANAN PENYULUHAN DALAM PEMBANGUNAN

Kaitan antara kemiskinan dan petani terlihat cukup erat. Di negeri ini suasana hidup miskin memang masih terlihat melekat kuat dalam citra diri petani. Petani bukan saja terjerat oleh kemiskinan yang bersifat alamiah, namun jika dilihat dari penguasaan terhadap sumber daya yang ada, mereka pun tetap terjebak dalam kondisi kemiskinan struktural.
Akhir-akhir ini sering terdengar bahwa Pemerintah sedang ramai membahas rencana Undang Undang Sistem Penyuluhan Pertanian. Sistem penyuluhan pertanian memang penting untuk untuk dikemas dalam suatu Undang Undang. Pertama, karena penyuluhan pertanian adalah proses sebuah pemberdayaan dan pemartabatan petani, dimana di dalamnya terkandung nilai-nilai kehidupan yang sarat dengan pesan moral. Kedua, karena penyuluhan pertanian yang selama ini kita lakukan, memang terbukti mampu menghantarkan petani, bahkan bangsa Indonesia secara keseluruhan menjadi lebih terhormat.
Mengingat bahwa penyuluhan merupakan kegiatan pendidikan non formal dan bahwa pendidikan merupakan proses yang diharapkan membawa kepada perubahan perilaku yang diinginkan, karenanya diperlukan beragam cara untuk menciptakan situasi belajar yang baik. Cara-cara menciptakan situasi belajar tersebut secara populer disebut dengan metode penyuluhan. Metode-metode penyuluhan ini merupakan pendekatan dasar untuk melakukan pendekatan, mendorong dan mempengaruhi anggota masyarakat petani untuk belajar (Leagans 1960; Dahama dan Bhatnagar 1980)
Pemberdayaan masyarakat sebenarnya sangat erat hubungannya dengan empowerwnent. Pendekatan pemberdayaan masyarakat titik beratnya adalah penekanan pada pentingnya masyarakat lokal yang mandiri sebagai suatu sistem yang mengorganisir diri mereka sendiri. Pendekatan pemberdayaan masyarakat yang demikian diharapkan dapat memberi peranan kepada individu, bukan sebagai objek, tetapi justru sebagai subjek pelaku pembangunan yang ikut menentukan masa depan dan kehidupan masyarakat secara umum.
Pada masa pembangunan seperti sekarang ini, pandangan, perhatian dan pemeliharaan terhadap para petani di pedesaan sudah semestinya diperhatikan. Kenyataannya kehidupan para petani di pedesaan tingkat kesejahteraannya masih rendah. Mereka buta akan pendidikan, teknologi, sehingga produksi yang mereka lakukan kurang maksimal. Petani di desa sangat menginginkan perubahan. Para petani di desa tidak dapat melakukan perubahan karena terbentur pada keadaan mereka sendiri, mereka kurang menguasai ilmu-ilmu yang dapat memajukan hasil tani mereka. Hal tersebut sebagaimana yang disampaikan Entang Sastraatmadja, (1993: 6), bahwa melalui kegiatan penyuluhan pertanian maka diharapkan dapat dihilangkan terjadinya kelaparan dan kemiskinan di Indonesia.
Pada masa pembangunan seperti sekarang ini, pemerintah sangat memperhatikan pendidikan bagi mereka. Pendidikan yang cocok bagi mereka adalah pendidikan non formal yang praktis, mudah diterapkan dalam usaha-usaha produksi produk pertanian. Untuk menumbuhkan kemandirian dan kepercayaan masyarakat akan kemampuan mereka yang selama ini kurang berdaya diperlukan adanya seorang pekerja masyarakat. Seorang pekerja masyarakat ini bisa disebut juga sebagai penyuluh.
Peranan penyuluhan dalam pemberdayaan masyarakat, yaitu: 1) menyadarkan masyarakat atas peluang yang ada untuk merencanakan hingga menikmati hasil pembangunan, 2) memberikan kemampuan masyarakat untuk menentukan program pembangunan, 3) memberi kemampuan masyarakat dalam mengontrol masa depannya sendiri, dan 4) memberi kemampuan dalam menguasai lingkungan sosialnya.
Menurut Tonny (2003), peran seorang pekerja pengembangan masyarakat dapat dikategorikan ke dalam empat peran, yaitu : (1) peran fasilitator (Facilitative Roles), (2) peran pendidik (Educational Roles), (3) peran utusan atau wakil (Representasional Roles), (4) peran teknikal (Technical Roles). Peranan fasilitator yang dilakukan oleh pekerja pengembangan masyarakat antara lain sebagai orang yang mampu membantu masyarakat agar masyarakat mau berpartisipasi dalam kegiatan bertani, orang yang mampu mendengar dan memahami aspirasi masyarakat, mampu memberikan dukungan, mampu memberikan fasilitas kepada masyarakat.
Seorang penyuluh juga harus mampu dalam memberikan pendidikan kepada masyarakat tani. Memberikan proses belajar yang terus menerus agar menumbuhkan kesadara. Penyuluh juga memberikan informasi, dan memberikan pelatihan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Funfsi lain adalah untuk mengembangkan masyarakat, penyuluhan berperan sebagai utusan atau wakil yang berkaitan dengan interaksi pekerja pengembangan masyarakat melalui penggunaan media, hubungan masyarakat, jaringan antara pekerja pengembangan masyarakat dan pekerja yang relevan, dan berbagi pengalaman dan pengetahuan baik secara formal maupun informal antara pekerja pengembangan masyarakat dan antara masyarakat.
Fungsi penyuluhan lainnya adalah menjembatani kesenjangan antara praktek yang biasa dijalankan oleh para petani dengan pengetahuan dan teknologi yang selalu berkembang menjadi kebutuhan para petani tersebut. Fungsi penyuluhan dapat dianggap sebagai penyampai dan penyesuaian program nasional dan regional agar dapat diikuti dan dilaksanakan oleh petani, sehingga program-program masyarakat petani yang disusun dengan itikad baik akan berhasil dan mendapat partisipasi masyarakat
Fungsi penyuluhan yang terakhir adalah fungsi pemberian pendidikan dan bimbingan yang berkelanjutan, yang artinya penyuluhan tidak akan berhenti begitu saja ketika mengetahui bahwa petani di tempat mereka berikan pendidikan, ternyata telah dapat melakukan perubahan. Namun, penyuluh tetap membantu mereka ke arah yang lebih baik lagi.



DAFTAR PUSTAKA
1. Entang Sastraatmadja, 1993. Penyuluhan Pertanian Falsafah dan Strategi. Bandung: Penerbit Alumni.
2. Kartasapoetra. A. G. 1988. Teknologi Penyuluhan Pertanian. Jakarta: BUMI AKSARA .
Krisnandhi S. 1968. Menggerakkan dan Membangun Pertanian. Jakarta: Jajasan Dana Buku Indonesia .
3. Mugniesyah, Siti Sugiah. 2006. Materi Bahan Ajar Ilmu Penyuluhan (Diktat Kuliah). Bogor: Departemen Komunikasi Pengembangan Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor.
4. Padmanagara, Salmon. Penyuluhan Pertanian Sebagai Ujung Tombak Menuju Pertanian Tangguh. Lembang: Departemen Pertanian Balai Informasi Pertanian.
5. Sastraatmadja, Entang. 2006. Petani di Tanah Merdeka. Bogor: Petani Centre HA IPB.
6. Setiana, Lucie. 2005. Penyuluhan dan Pemberdayaan Masyarakat. Bogor: Ghalia Indonesia.
7. Soetrisno, Loekman. 2002. Paradigma Baru Pembangunan Pertanian. Yogyakarta: KANISIUS.
8. Suriatna, Sumardi. 1988. Metode Penyuluhan Pertanian. Jakarta: PT MEDIYATAMA SARANA PERKASA.
9. Taopan. 2005. Hubungan Kelembagaan Penyuluhan Dengan Peran Penyuluhan Dengan Peran Penyuluh Selaku Pekerja Pengembangan Masyarakat (Skrispsi). Bogor: Departemen Komunikasi Pengembangan Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar